Oleh: star5t | Juni 17, 2009

Seorang pencinta bertemu Yang sangat dicintai

ReligionSymbolDari seorang teman.

Hari itu aku tiba-tiba merasa gelisah… Guru agama masih
sibuk di depan kelas, menjelaskan keterkaitan agamaku
dengan agama mesir kuno dan agama orang Karo Kuno yang
menyembah matahari dengan wajah yang begitu bangga…

Aku, yang dibesarkan dalam tradisi Hindu yang sangat kuat..
merasa ada yang salah dengan rasa bangga yang ditunjukkan
guruku di kelas 3 SMP saat itu. Perasaan bangga sebagai
seorang yang kuat dan konsisten terhadap suatu ajaran yang
benar… karena paling dulu ada sebelum agama lain (katanya
begitu…)

Lalu tanda tanya yang besar memenuhi kepalaku..
Kenapa harus menyembah matahari (dewa surya) ?
Kenapa harus menyembah dewa dan batara kalau dewa dan
batara itu diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dan hanya
merupakan percikan cahaya dari Sang Hyang Widhi (Yang
Maha Menciptakan) ?
Kenapa tidak langsung saja menyembah sumber cahayanya ?
Kenapa harus melalui perantara para leluhur, kalau Tuhan itu
memang Maha segalanya ?
Mestinya Ia juga Maha mendengar, sehingga ia bisa
mendengar langsung doa dan permintaanku ?

Lalu aku mulai melakukan sesuatu yang lain… Aku tidak mau
lagi melakukan urut-urutan yang seharusnya dilakukan dalam
ritual “mepuspa” dalam persembahyangan yang biasanya
dimulai dengan :
– Menyembah Roh para Leluhur
– Menyembah Dewa Batara
– Menyembah Sang Hyang Parama Kawi/Sang Hyang Widhi..
Aku tetap melakukan puspa 3 kali.. tapi dalam hatiku aku
katakan…
– Menyembah Sang Hyang Widhi..
– Menyembah Sang Hyang Widhi..
– Menyembah Sang Hyang Widhi…
Itu awal kegelisahan dan pencaharianku saat aku mulai
menginjak remaja…

Aku mulai tertarik mengamati agama lain. Kebetulan di
dekat rumah temanku ada sebuah gereja… Tapi aku menjadi
tidak berminat untuk lebih lanjut mencari tahu.. Karena kata
temanku.. dosa orang kristen bisa dihapus dan ditebus oleh
Tuhannya.. Dengan konsep karma phala bahwa setiap
perbuatan pasti berakibat dan reinkarnasi (kelahiran kembali
dimana dosa-dosa terdahulu tetap ditanggung sampai
kelahiran yang akan datang : dengan perubahan wujud
menjadi mahluk lain atau perubahan kasta sesuai dengan
pahala yang dikumpulkan) yang sangat kuat menancap di
otakku, aku langsung menolak hal itu..

Mana bisa dosa dihapus begitu saja dan ditebus begitu saja….
sangat tidak pantas dan terlalu seenaknya.. kasihan sekali
Tuhannya orang kristen itu harus menebus dosa sekian banyak
pendosa.. Apalagi katanya Tuhan itu berputra… Tuhan itu
khan bukan laki-laki atau perempuan… jadi bagaimana dia
bisa berputera ?

Ada masjid di daerah dekat sungai Unda, dimana aku sering
main kesana.. Tapi sungguh Islam itu sangat tidak menarik..
Orangnya judes-judes.

.. nggak mau didekati… Apalagi yang
namanya Fatimah… sombong banget.. Mana pakai acara
tidak makan selama sebulan… Kalau sembahyang sangat
tidak sopan karena menunggingi teman dibelakangnya…
Kalau menjemur pakaian tinggi-tinggi sampai melewati
kepala… Kepala itu khan sesuatu yang suci… Jadi ?
Bagaimana dong… apakah sebaiknya aku nggak usah
beragama ? Cukup menyembah Sang Hyang Widhi dengan
caraku ?

Lalu aku mulai tertarik mengamati agama Budha.. kayaknya
bagus nih… Orang-orangnya kelihatan tenang dan bersahaja..
Tapi masa iya juga aku harus menyembah “Orang”… Buddha
itu khan seorang awatara atau utusan Sang Hyang Widhi…

Begitulah.. aku dalam kebingungan yang Nyata…. Sampai
kemudian masa SMP ku terlewat dan aku masuk SMA di
Malang, bergabung kembali dengan orang tuaku. Kebingungan
untuk beragama berubah menjadi fanatisme yang justru
begitu kuat dengan agamaku… Hal itu lebih didorong oleh
sikap teman-temanku yang beragama islam.. Mereka katakan
darahku halal untuk ditumpahkan karena aku orang kafir..
Aku tidak berhak menerima foto kopian buku-buku dan
latihan soal dari teman-teman, karena aku orang kafir… Aku
juga tidak boleh menjadi pimpinan redaksi Majalah sekolah,
karena aku orang kafir… Aku tidak boleh kost di suatu
tempat yang aku sangat suka.. karena disana semua
beragama islam… dan yang punya rumah tidak mau ada
orang kafir di rumah itu… Sungguh.. aku benciii.. sekali
dengan agama yang bernama Islam itu… Aku bertekad
membuktikan bahwa Hindu itu adalah agama yang benar…
Tapi ada kesalahan dalam penerapan ajarannya…

Saat kuliah, aku mulai serius mendalami agamaku.. Karena
aku merasa harus meluruskan sesuatu… Tapi yang
mengesalkan… tidak seorangpun bisa menunjukkan aku kitab
Wedha.. padahal buku itu khan katanya kitab suci kami.. Aku
bergerilya kesana kemari.. bertanya ke tokoh-tokoh yang
mendalami agama kami.. Tidak seorangpun punya wedha..
Mereka hanya mempelajari kitab-kitab yang ditulis para
empu, seperti Maha bharata, Bagawad Ghita dan
Sarassamuscaya, kita-kitab itulah yang dianggap kitab suci…

Mereka menganggap tidak perlu mengetahui apa isi wedha,
karena toh dengan mengimplementasikan isi kitab-kitab dari
para empu, sudah cukup dan mereka tetap bisa berbuat baik
dan tidak merugikan orang lain, juga tidak melakukan
kerusakan di muka bumi…

Aku Pergi ke pura-pura sampai ke pelosok untuk bertanya
pada pemangku pura.. juga ke departemen agama.. Akhirnya
aku menemukan Wedha di Depag Surabaya. Sangat besar dan
tebal, berbahasa Sansekerta… tapi sayangnya tidak boleh
dipinjam, karena katanya hanya orang tertentu yang
disucikan yang boleh membaca.. lagi pula kamu tidak akan
mengerti dan sulit mempelajari karena tulisannya huruf
palawa yang sudah sangat kuno… begitu katanya… Lakukan
saja apa yang diajarkan nenek moyang kita.. Kenapa repot-
repot nyari Wedha..? Kebenaran itu ada dimana-mana, nggak
harus dari buku wedha… lakukan saja hal-hal yang benar..
itu sudah cukup…

Aku sungguh kesal dan putus asa… Kenapa Tuhan seperti
mempermainkan aku…? Aku ingin melakukan hal yang benar…
karena aku mencintaiNya dengan sungguh-sungguh… tapi
kenapa Ia seperti tidak membalas cintaku..? tidak
menunjukkan jalan kepadaku..?

Berhari-hari aku tersungkur di kamar kost dengan perasaan
yang sangat hampa…kecewa… putus asa… Aku nggak tahu,
apa ada yang melihat aku saat itu bicara sendiri seperti orang
edan… maksudnya sih bicara pada Tuhan… Akhirnya aku
katakan…
Tuhan… sudah bertahun-tahun aku ingin mendekatiMu….
Aku sungguh sangat lelah… karena aku rasanya tak pernah
bisa meraihMU…
Aku tidak mungkin meninggalkanMu, karena aku merasa
sangat mencintaiMu…
Tapi aku sudah sangat lelah karena tidak bisa menemukan
cara untuk mendekatiMu…
Tolong tunjukkan jalan itu padaku… atau aku tidak akan
beragama sama sekali…
Tolong beri aku teman yang bisa menjawab pertanyaanku…
setidaknya menunjukkan jalan untuk mendekatiMU…
Sungguh.. kalau dalam waktu dua minggu ini aku tidak
menemukannya… aku akan memutuskan untuk tidak
beragama… karena bagiku semuanya salah…

Lalu apa yang terjadi ? Dua minggu kemudian aku bertemu
teman baru dalam suatu kejadian yang bersifat sangat
kebetulan.. Dia beragama Islam… tapi bukan orang yang
alim.. karena dia tidak pernah shalat.. bapaknyapun kristen,
tapi ibunya islam… Tapi dia punya pengetahuan dan
wawasan yang terbuka luas… Entah bagaimana mulanya
kami berdiskusi masalah agama… Diskusi yang tiba-tiba jadi
begitu intens.. Seringkali terjadi perdebatan yang seru.. dan
sering diakhiri dengan kemarahan dan bentakan-bentakan…
Herannya.. kami tidak pernah berhenti memulai diskusi lagi
hari berikutnya…

Dari dia, kemudian aku mendapat pemahaman baru tentang
Islam.. pemahaman baru tentang shalat yang dulu aku
anggap sangat tidak sopan… Pemahaman tentang puasa…
Dan tentang Muhammad sang Nabi… Aku jadi sangat
terkejut, saat teringat ajaran tentang awatara… bahwa
akan datang awatara ke 10 yang bernama Mahamattan…
Apakah dia itu Muhammad ?

Tapi entah kenapa ada perasaan berat untuk mengakui itu
semua adalah suatu kebenaran.. Ada semacam perasaan
gengsi.. Juga perasaan malu dan takut… Ada sesuatu yang
berat untuk dilalui…

Sampai akhirnya aku lulus dan pindah ke Surabaya.. Kontak
kami masih terus berjalan… Teman diskusiku pun sudah
banyak berubah.. Ia mulai shalat… setelah 12 tahun
ditinggalkannya… Aku, sampai saat itu dalam hati sudah
mengakui Islam sebagai suatu kebenaran.. Tapi ada suatu
beban, entah apa.. yang sungguh berat yang mengganjal,
untuk menjadikannya sebagai agamaku..

Sudah menjadi kehendak Allah aku kost di sebuah rumah
orang kristen, tapi anak kostnya semua Islam.. Mereka
sungguh teduh dan bersahabat.. bayangan orang Islam yang
judes dan galak sudah tidak ada lagi… Mereka memberi
masukan-masukan.. Yang aku ingat betul suatu kalimat…
“Mungkin agama mbak saat turun juga agama yang benar…
tapi dalam perjalanannya telah banyak diselewengkan… Jika
diibaratkan kurikulum… Islam adalah revisi terakhir dari
semua kurikulum yang sudah ada…

Sungguh tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang pasti…
Baiklah.. aku akan mengikuti kurikulum terakhir… Apapun
resikonya… termasuk kehilangan hak menjadi seorang “Anak
Agung Istri” (Aku terlahir sebagai perempuan dengan kasta
ksatria, yang otomatis hilang jika melakukan pernikahan
dengan kasta di bawahnya, atau pindah agama). Akupun
mengucapkan dua kalimat syahadat…

Aku mulai belajar shalat… Aku dituntun oleh suatu kekuatan…
yang mempermudah semuanya… Aku seperti mendapat
pelajaran dalam mimpi saat tertidur.. sehingga saat
terbangun aku dengan mudah hafal gerakan dan bacaan shalat…

Sudah kehendak Allah pula aku kemudian pindah kost dekat
masjid, disana ada pengajian rutin tiap senin yang diisi oleh
seorang Ustadz, mengkaji kandungan Al Quran… yang
sungguh mengukuhkan keputusanku…

Demikianlah…
Aku akhirnya “menemukan” Tuhan…
Perasaan rinduku… tiba-tiba seperti terbalas tuntas…
Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan…
Aku merasakan begitu nikmatnya saat-saat shalat…
Perasaan seorang pencinta yang bertemu dengan Yang sangat dicintai..
Indah sekali…
Subhanallah…


Responses

  1. katakan Allah(Tuhan) itu satu..
    segala sesuatu bergantung kepda_Nya….
    ketika tidur…kita tidak bisa bangun dengan kesadaran sendiri Dialah yang membangunkan kita….
    Tidak beranak dan tidak diperanakkan…
    DIa berwujud tetapi tidak ada sesuatupun yang menyerupai…karena keterbatasan panca indera kita??
    bisakah kita melihat langit dari ujung timur sampai barat sampai selatan dan bwh bumi????
    itu sebagian yg sangat kecil dari Ciptaan-Nya
    Allahu Akbar….

  2. subhanallah semoga anda dalam lindungan Allah Dzat yng Paling mulia…ihdinas sirotol mustaqin….

  3. Assalamu’alaikum Wa rahmatullah wa barakatuh

    Subhanallah..

    “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (Q.S. Al-Maidah (5) : 16)

    Salam Ukhuwah

    Wassalamu’alaikum


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: