Oleh: star5t | Januari 28, 2011

Balasan Bagi Orang Yang Dicela

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

اللَّهُمَّ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْ ذَلِكَ لَهُ قُرْبَةً إِلَيْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw : “Wahai Allah, maka siapapun orang yang beriman yang pernah aku mencelanya, maka jadikanlah hal itu baginya kedekatan pada Mu dihari kiamat” (Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الْعَظِيْمَةِ…

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menciptakan keluhuran dan membagi-bagikan kepada hamba-hamba-Nya, Yang Maha Melimpahkan rahmat dan Maha melimpahkannya kepada hamba-hamba-Nya, Yang Maha memilih namaku dan nama kalian untuk dilimpahi rahmat di malam hari ini dengan rahmat yang belum pernah kita terima di malam-malam sebelumnya, tambahan rahmat yang terus berlimpah dari Sang Maha pemilik rahmat, rahmat adalah paduan dari segenap kenikmatan dunia dan akhirah. Dan yang lebih daripada itu adalah kasih sayang dan cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sedemikian banyak hamba yang mendapatkan musibah dan ketika ia dilimpahi rahmah maka musibahnya terkikis, sedemikian banyak masalah yang akan datang di masa mendatang pada seorang hamba, di dunia atau di akhiratnya maka Allah singkirakan sebelum hamba-Nya mengetahui musibah apa yang akan datang kepadanya, sedemikian banyak amal ibadah yang Allah lipatgandakan pahalanya lebih besar daripada perbuatannya, sedemikian banyak pengampunan Allah limpahkan tanpa hamba-Nya tau bahwa telah Allah hapus dosa-dosanya, sedemikian banyak Allah tawarkan kelembutan yang siap dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya berupa kenikmatan dunia dan akhirah.

Dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh bahwa kalau seandainya manusia itu mengetahui aib-aib dirinya yang telah ditutupi oleh Allah, niscaya ia akan menjerit dan menangis karena malu atas aib-aibnya sendiri, tanpa sempat ia memikirkan aib orang lain, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا، وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا، وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا، يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا، بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا، يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ، فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

( الزلزلة: 1-8 )

” Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya, Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji sawi) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” ( QS. Az Zalzalah:1-8 )

Allah subhanahu wata’ala telah mendatangkan gempa yang terbesar sepanjang sejarah terciptanya angkasa raya, angkasa raya dan bumi ini ditimpa gempa yang dahsyat, bumi diguncang dengan sekeras-kerasnya untuk mengeluarkan seluruh pendamannya, bumi memuntahkan jasad-jasad manusia yang pernah terkubur sejak zaman nabiyullah Adam AS hingga manusia yang terakhir dikubur di bumi ini, jasad yang telah menjadi debu dan tanah dihidupkan dan dimunculkan kembali oleh Allah, sebagaimana dijelaskan di dalam tafsir Al Imam Thabari dan lainnya, bahwa Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hujan untuk turun ke permukaan bumi setelah kesemuanya binasa, dan yang kekal hanyalah Dzat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

(الرحمن : 26-27 )

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” ( QS. Ar Rahman: 26-27)

Maka Allah menurunkan hujan ke bumi sehingga tumbuhlah jasad yang telah hancur menjadi debu dan tanah, seperti munculnya tubuh dari sebutir sel yang tidak terlihat mata, manusia tumbuh dalam 9 bulan dari sel yang tidak terlihat mata, seperti itulah Allah menumbuhkan kembali jasad-jasad yang terpendam di bumi. Maka bumi ini menjadi rahim atau perut yang melahirkan manusia untuk kedua kalinya kelak di hari kebangkitan. Di hari itu manusia dibangkitkan untuk menghadap Allah, dan di saat itu manusia kaget dan dalam kebingungan, atas apa yang akan terjadi padanya. Di hari itu bumi bersaksi atas semua yang pernah terjadi padanya, mulai dari nabiyullah Adam AS menginjakkan kakinya hingga manusia terakhir yang hidup di muka bumi, semua yang pernah terjadi diceritakan oleh bumi, dimana ia lahir, kapan ia baligh, dan lain-lainnya dari apa-apa yang pernah ia lakukan dan lainnya, dan setiap butir debu dan tanah yang ia injakpun menjadi saksi atas semua perbuatan baik dan buruknya, karena Allah yang menciptakan bumi memerintahkan bumi untuk mengabarkan segala sesuatu yang pernah ia ketahui selama bumi ini dicipta. Dan barangsiapa yang pernah beramal baik sekecil apapun kelak dia akan melihat balasan amalnya, dan barangsiapa yang beramal jelek sekecil apapun itu maka kelak ia akan melihat balasannya. Maka sungguh demikian banyak Allah menutupi aib-aib yang pernah kita lakukan, dan jika kita mengetahuinya niscaya kita tidak akan berhenti dari menangis.

Maka dijelaskan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw, bahwa : ketika engkau melihat aib orang lain maka ingatlah barangkali engkau pernah berbuat aib yang lebih besar darinya, dan kalaupun tidak, mungkin saja Allah telah mengampuni aib orang itu dan belum mengampuni aibmu yang kecil, walaupun seandainya Allah telah mengampuni aibmu yang kecil, bisa jadi Allah murka kepada mu sebab engkau terus melihat aib orang lain tanpa memperhatikan aib dirimu sendiri.

Beruntunglah orang yang selalu mengingat aib-aibnya sendiri sehingga ia lupa pada aib-aib orang lain, dan sungguh merugilah orang yang selalu sibuk memikirkan aib orang lain dan ia lupa atas aibnya sendiri yang mungkin lebih besar dari aib orang lain atau Allah telah mengampuni aib orang lain namun belum mengampuni aibnya yang lebih kecil.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Sampailah kita pada hadits luhur dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuntun kita apabila kita terlanjur mencaci atau mencela orang lain maka berdoalah dengan doa seperti hadits yang telah kita baca tadi :

اللَّهُمَّ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْ ذَلِكَ لَهُ قُرْبَةً إِلَيْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah, siapa saja di antara orang mukmin yang aku caci, jadikanlah hal itu sebagai sarana yang mendekatkan dirinya kepadaMu di hari Kiamat”.

Jadi kita doakan orang-orang yang pernah kita cela, atau mungkin kita terlanjur mencaci maki dan telah keluar dari mulut kita cacian atau hinaan, barangkali orang yang kita caci itu kelak menjadi orang yang lebih baik dari kita, barangkali kelak dia adalah orang yang sangat disayangi dan dikasihani Allah subhanahu wata’ala, namun kita tidak mengetahui hal itu. Dan mungkin dia mempunyai derajat sangat luhur di sisi Allah namun karena dia mencela orang lain, maka jatuhlah kehormatannya di sisi Allah subhanahu wata’ala. Allah menyayanginya namun karena ia mencela orang lain, maka Allah subhanahu wata’ala berpaling darinya dan membuat kehormatannya terjatuh di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Dan secara kasarnya kita ini selalu mencari muka di sisi Allah, bukan justru mencari muka di hadapan makhluk, maksud mencari muka disini adalah mencari kedekatan perhatian Allah. Dan sudah selayaknya kita berbuat demikian kepada Allah subhanahu wata’ala untuk didekati Allah, untuk disayangi Allah, untuk diampuni Allah, dan dimuliakan Allah, demikian indahnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa bukan berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencela orang lain namun yang dimaksud adalah barangkali terlintas dalam hati orang tersebut untuk berbuat buruk maka Allah memberinya hidayah, atau Rasulullah ingin mengajarkan kepada para sahabat. Maka hal ini semua ulama tidak berbeda pendapat bahwa Rasulullah tidak pernah mencela orang lain. Sungguh mulianya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu pula Al qur’an Al Karim dimana setiap hurufnya adalah rahasia cinta Allah subhanahu wata’ala, sehingga sayyidina Utsman bin Affan berkata:

لَوْ طَهُرَتْ القُلُوْبُ لَمَا شَبِعَتْ مِنْ قِرَاءَة ِالْقُرْآنِ

“Seandainya hati itu suci,niscaya  tidak akan pernah kenyang (puas)dengan Al Qur’an.”

Jika hati manusia sedang suci dan bening niscaya dia tidak akan puas membaca Al qur’an, terus asyik ia membacanya, baik ia mengerti atau tidak mengerti maknanya, ia sudah lancar membacanya atau masih tersendat-sendat dalam membacanya. Ada diantara mereka yang membacanya masih tersendat-sendat atau masih belajar satu atau dua huruf tetapi ia asyik dalam membaca Al qur’an, ada juga yang mengerti maknanya, membaca dengan lancar dan dengan kaidah tajwid tetapi ia malas membacanya, bahkan ada yang sudah hafal Al qur’an beserta makna dan tafsirnya tetapi ia malas membacanya, sungguh jauh perbedaan antara orang yang baru belajar membaca Al qur’an dan orang yang telah lancar membaca dan memahaminya namun malas membacanya. Hadirin hadirat, Al Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail Ar salah satu keturunan ‘am Al Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, beliau dijuluki Jamalullail karena di malam harinya ia selalu membaca Al qur’an, dan beliau di siang harinya tidak mau membaca Al Qur’an di saat bulan Ramadhan atau beliau sedang berpuasa, maka Al Imam ditanya , mengapa di siang hari beliau tidak mau membaca Al Qur’an, beliau berkata : “Jika aku membaca Al Qur’an seakan-akan aku meminum madu maka hilanglah lapar dan hausku, dan aku khawatir tidak akan mendapatkan pahala puasa, karena aku tidak merasa lapar dan haus”, karena lezatnya membaca Al qur’an, maka beliau membaca Al Qur’an di malam hari saja, sehingga ada orang yang menangis tersedu-sedu karena mendengar bacaannya, ada pula seorang dusun yang ketika mendengar beliau membaca Al Qur’an maka ia menari karena asyiknya mendengar bacaan Al Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail. Oleh karena itu beliau disebut dengan Jamalullail karena malam-malamnya selalu indah dengan bacaan Al Qur’an Al Karim.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Al Qur’an adalah rahasia cinta Allah subhnahu wata’ala, setiap kalimatnya membimbing kita agar kita lebih dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Alqamah RA berkata : “Kami telah menganggap ayat Al qur’an adalah keberkahan, sedangkan kalian menganggapnya menakut-nakuti dan membuat kerisauan”. Mereka menganggap ayat-ayat yang berupa teguran itu adalah barakah dari Allah subhanahu wata’ala, mereka menganggap semua ayat Al qur’an adalah keberkahan. Tentunya ada ayat-ayat yang menakut-nakuti, namun semakin dalam pemahaman seseorang tentang isi Al qur’an maka ia akan semakin merasa bahwa hal itu adalah rahasia kelembutan Allah subhanahu wata’ala. Diantara para salafussalih ketika mendengar firman Allah subhanahu wata’ala:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِ


Responses

  1. subhanallah

    purwati
    http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
    http://purwati-ningyogya.blogspot.com
    http://purwatining.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: