Oleh: star5t | Agustus 9, 2010

Balajar untuk Saling Memaafkan^_^

Belajar untuk Saling Memaafkan

Oleh Makmun Nawawi

Ibnu Sammak, seorang tokoh zahid yang juga penasihat Khalifah Harun
ar-Rasyid pernah ditantang oleh temannya sendiri, “Esok, saya dan kamu
akan saling mencela.” Namun, tantangan itu justru dibalas oleh sang
zahid dengan, “Tidak, justru esok hari saya dan kamu akan saling
memaafkan.”

Sebuah jawaban yang sungguh menyejukkan hati di tengah kehidupan yang
sarat dengan pertikaian dan perpecahan. Jawaban seperti di atas muncul
dari hati yang paling dalam hati yang sudah dilapangkan dadanya oleh
Allah, hati yang perih ketika menyaksikan perseteruan umat terjadi di
mana-mana.

Jawaban semacam itu adalah bak oase di tengah padang sahara. Mengapa
begitu, karena ketika menghadapi sebuah tantangan, apalagi tantangan
itu diekspos sedemikian rupa di hadapan publik, biasanya yang sering
kita saksikan adalah kembali menantang, malah lebih sengit lagi.
Bahkan, tidak jarang tantangan dan kebencian itu diwariskan secara
turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu
periode ke periode berikutnya, dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan
berikutnya, dengan biaya yang tidak kecil pula.

Mengapa kita harus saling menantang, mencaci, menuding, serta gemar
menaburkan kebencian, yang akan merusak hubungan sesama kita? Mengapa
kita acapkali menuntut orang lain agar jadi orang ma’sum (bersih dari
kesalahan), sedangkan kita sendiri berlumuran sifat-sifat buruk?

Bukankah sikap saling memaafkan itu lebih baik dan lebih suci, serta
lebih menenteramkan hati? Indah rasanya manakala setiap kali bertemu
dan bersalaman dengan saudara Muslim, hati ini menggemakan doa: “Ya
Allah, ampunilah aku dan saudaraku ini,” seraya menanamkan tekad di
hati untuk memaafkan kekhilafannya.

Ingat, surga itu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yang salah
satu sifatnya adalah mudah memaafkan. “Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 133-134).

Kita yang bermental pendendam, pembenci, dan yang kerap menampilkan
muka masam, mari kita ganti dengan sikap gampang memaafkan dan
menebarkan senyuman, karena karakter manusia itu tertarik kepada orang
yang mudah memberi senyuman pada orang lain dengan ikhlas, dan dia
akan lari dari orang yang bermuka masam lagi cemberut. Sebuah pepatah
mengatakan: “Bagaimana mungkin aku membenci seseorang, padahal dia
tersenyum padaku?” Wallahu A’lam.
Red: irf

sumber:
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/08/07/128817-belajar-untuk-saling-memaafkan


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: