Oleh: star5t | Mei 12, 2009

Rahasia Besar Ilahi Di Balik Khitan

khitan

Khitan terbukti secara medis mencegah penyakit berbahaya, termasuk AIDS. Hal
yang sama tidak didapati pada kaum homoseksual

Hidayatullah.

Com-Temuan terkini tentang keampuhan khitan mengurangi penularan
penyakit

bukanlah hal pertama kali dan satu-satunya. Para ilmuwan mancanegara telah
banyak melakukan penelitian ilmiah seputar khitan. Karya-karya ilmiah mereka
yang diterbitkan jurnal-jurnal ilmiah terkemuka dunia semakin menguatkan
kehebatan khitan dalam menanggulangi aneka penyakit berbahaya yang ditularkan
melalui hubungan kelamin, termasuk di antaranya AIDS dan kanker.

Hasil penelitian terbaru seputar khitan atau sunat belum lama ini diumumkan di
pertemuan ilmiah tahunan ke-104 Ikatan Urologi Amerika (American Urological
Association, AUA). Urologi adalah ilmu bedah yang khusus menangani masalah
saluran kencing pria dan wanita, serta sistem reproduksi pria.

Dua temuan penting menjadi bahan sorotan dalam acara itu. Selain terbukti
mengurangi terjangkitnya virus penyebab AIDS (HIV), khitan juga mengurangi
bahaya cedera saat persenggamaan. Hebatnya lagi, khitan ditemukan tidak
mengurangi kenikmatan hubungan suami istri.

Aman dan nyaman

Para ilmuwan Australia menemukan bahwa sel-sel Langerhans ditemukan dalam jumlah
paling besar pada kulit khitan bagian dalam dari kemaluan pria. Sel-sel
Langerhans ini adalah sasaran awal proses penularan HIV melalui hubungan
kelamin.

Peneliti di benua kanguru itu meneliti 10 pria yang sudah berkhitan dan 10 pria
yang belum berkhitan. Kulit khitan bagian dalam memiliki kepadatan sel-sel
Langerhans lebih tinggi dibandingkan pada bagian-bagian lainnya dari kulit
penutup kemaluan pria. Kulit khitan bagian dalam ini dibuang ketika orang
dikhitan, hal ini menghilangkan permukaan kulit yang paling rentan terhadap
penularan virus AIDS. Namun patut dicatat bahwa khitan hanyalah mengurangi dan
bukan mencegah sama sekali bahaya terjangkiti penyakit AIDS.

Pada penelitian berikutnya, para peneliti gabungan asal AS, Kanada dan Kenya
menunjukkan bahwa tidak ditemukan perbedaan fungsi seksual antara mereka yang
dikhitan dan yang tidak dikhitan. Namun pria yang dikhitan mendapatkan
keuntungan lebih. Mereka yang bagian ujung kulit kemaluannya dibuang menghadapi
bahaya lebih rendah terkena cedera saat berhubungan badan dibandingkan rekan
mereka yang tidak dikhitan. Cedera ini meliputi pendarahan, tergores, teriris,
lecet atau rasa pedih.

Namun bukan berarti pria berkhitan boleh 100% merasa aman dari tertular AIDS.
“Ini adalah laporan penting yang menguatkan gagasan bahwa khitan tidaklah
mengganggu fungsi seksual dan bahwa khitan adalah unsur penting pencegahan HIV
di Afrika sub-Sahara. Pada saat yang sama, perlu ditegaskan bahwa khitan
haruslah dipadukan dengan cara-cara pencegahan HIV lain, seperti seks aman dan
pemeriksaan sukarela. Tidaklah cukup mengandalkan khitan saja untuk mencegah
penularan HIV”, kata juru bicara Ikatan Urologi Amerika (AUA), Ira D. Sharlip,
MD.

AUA didirikan pada tahun 1902 dan berpusat dekat Baltimore, Maryland, AS. AUA
memiliki anggota berjumlah lebih dari 16.000 pakar urologi yang tersebar di
seluruh dunia.

Ada yang dikecualikan

Berdasarkan penelusuran ilmiah oleh redaksi Hidayatullah.Com, keampuhan khitan
menangkal AIDS ini tidak berlaku bagi kaum pria yang melakukan hubungan kelamin
dengan sesama pria, (Men who have Sex with Men, disingkat MSM). Dalam kelompok
ini termasuk di dalamnya kaum homoseksual. Hal ini telah dibuktikan dalam
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Gregorio A. Millett, M.P.H. dari Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, di Atlanta, AS.

Millett dan rekan-rekannya melakukan pengkajian terhadap 15 hasil penelitian
untuk mengetahui kaitan antara khitan dengan penularan HIV atau
penyakit-penyakit lain yang tertularkan melalui hubungan kelamin. Pengkajian ini
melibatkan peserta berjumlah keseluruhan 53.567 orang yang termasuk dalam
kelompok MSM, 52% di antaranya sudah dikhitan.

Para peneliti itu menemukan hal aneh: meskipun kaum MSM yang dikhitan dan
tertular virus AIDS berjumlah lebih rendah daripada jumlah mereka yang tidak
dikhitan dan terjangkiti HIV, namun perbedaan jumlah ini tidaklah nyata, alias
sama saja. Sebaliknya, secara statistik kemampuan khitan mengurangi penularan
HIV ditemukan di kalangan MSM yang diteliti sebelum diterapkannya program
pengobatan antiretrovirus sangat aktif (HAART) di tahun 1996. Namun pasca
program HAART ini, secara statistik tidak ditemukan kaitan nyata antara khitan
dan penularan HIV.

Hal yang sama ditemukan pula pada kasus penyakit-penyakit lain selain AIDS, yang
juga tertularkan melalui hubungan kelamin. Para peneliti itu menyimpulkan,
secara statistik tidak ditemukan kaitan nyata antara khitan dengan penularan
aneka penyakit tersebut di kalangan MSM. Dengan kata lain, tidak ada bukti
statistik nyata yang menunjukkan bahwa khitan dapat mengurangi bahaya penularan
berbagai penyakit kelamin pada pria yang berhubungan kelamin dengan pria.

Keharusan abad ke-21

“Mengapa khitan merupakan keharusan biomedis bagi abad ke-21″, demikian judul
karya ilmiah Brian J. Morris di jurnal ilmiah BioEssays. Dalam tulisan itu
Morris memaparkan panjang lebar seputar keampuhan khitan ditinjau dari sudut
pandang ilmiah dan kesehatan disertai bukti berlimpah.

Di negara-negara maju, khitan sudah diterapkan luas. Berdasarkan data yang
terkumpul di tahun 2007, di Amerika Serikat terdapat lebih dari 1,2 juta bayi
laki-laki yang dikhitan setiap tahun, dan angka ini mengalami peningkatan.
Mereka yang tidak dikhitan sebagian besar adalah imigran yang berasal dari
negara-negara yang kurang mengenal budaya khitan. Berdasarkan kajian lembaga AS,
Pusat Pengendalian Penyakit (CDC), jumlah orang yang dikhitan ini berjumlah 88%
di kalangan warga kulit putih, 73% pada masyarakat kulit hitam, 42% di kalangan
meksiko-amerika dan 50% di kalangan warga etnis lain (nilai rata-rata
keseluruhan adalah 79% pada seluruh etnis ini).

Di kalangan pria yang terlahir di Australia, angka ini mencapai 69%. Di Timur
Tengah sekitar 100.000 orang Yahudi dan 10 juta Muslim dikhitan setiap tahunnya,
dan di Afrika angka ini mencapai 9 juta.

Menurut Morris, khitan atau sunat merupakan vaksin, yakni pemberian kekebalan
tubuh melalui operasi kecil dalam rangka menangkal penularan beragam kuman
penyakit, mencegah kondisi kesehatan yang buruk dan penyakit-penyakit berbahaya
sepanjang hidup, serta melindungi pasangan mereka. Di tangan ahli berpengalaman,
operasi khitan ini sangatlah aman, bisa tidak menimbulkan rasa sakit dan dapat
dilakukan pada usia berapa pun.

Morris menyebutkan, mereka yang telah dikhitan tidak mudah terkena aneka
penyakit, seperti: infeksi saluran kencing, infeksi HIV dan HPV, sipilis dan
syankroid, kanker kelamin dan prostat, fimosis, infeksi jamur, dan pembengkakan
kulit kelamin. Selain itu, mereka yang dikhitan juga memberi perlindungan
terhadap wanita pasangan mereka dari terjangkiti penyakit kanker leher rahim dan
infeksi chlamydia. Di bagian akhir tulisannya, Morris menyimpulkan, “Oleh karena
itu, bila mempertimbangkan bukti-bukti kedokteran yang berlimpah, khitan adalah
[sesuatu yang] diperintahkan.” (wwn/auanet/nejm/bioessays/hidayatullah.com)

Ilustrasi : Wikipedia

sumber:
http://hidayatullah.com/index.php/berita/iptek/9291-ilmuwan-khitan-anjuran-moder\
n-abad-ke-21

Daftar pustaka:

1). AUA Staff (2009). Adult Circumcision Reduces Risk of HIV Transmission
Without Reducing Sexual Pleasure. News, American Urological Association, 26
April 2009.
(http://www.auanet.org/content/press/press_releases/article.cfm?articleNo=117 ,
dikunjungi pada 4 Mei 2009)

2). AAR Tobian (2009). Male Circumcision for the Prevention of HSV-2 and HPV
Infections and Syphilis. The New England Journal of Medicine, Vol 360(13):
1298-1309, 26 March 2009.

3). BJ Morris (2007). Why circumcision is a biomedical imperative for the 21(st)
century. Bioessays, Vol 29(11):1147-58, Nov. 2007.


Responses

  1. khitan pertama gagal ya mas??
    hihihihi

  2. weqeqeqeqe….khitan pertama gagal ya mas?

  3. Gmn kalo dihitannya 2 x :)


Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: